Friday, January 6, 2012

Islam, Sholat, kurap dan kudis

Penduduk Indonesia berjumlah lebih kurang 200 juta lebih, 90 persen menganut agama Islam. Tetapi yang mengamalkan ajaran rahmatan lil alamin ini baru 60 persen, sisanya yang 30 persen terkena penyakit kudis alias kurang disiplin dan kurang perhatian (kurap).

Kenapa dengan kurap dan kudis? Sikap mereka yang cuek bebek bikin kita prihatin. Betapa tidak. Ketika mereka diajak dan dipanggil lewat kumandangan azan melalui media televisi, masjid, mushala, dan surau di tepian sungai yang airnya jernih mengalir, agar menunaikan ibadah salat tidak pernah digubris.

Panggilan mulia itu dianggap biasa-biasa saja, bagaikan angin sepoi berlalu. Mereka tetap tidak juga beranjak dari tempatnya dan masih kesemsem dengan urusan dunia.

Yang berdagang di kala maghrib masih sibuk dengan urusan dagangannya. Sopir tetap beraksi menjalankan mobil angkutannya. Pegawai yang di kala zuhur tiba tetap sibuk dengan peristirahatannya. Begitu pula politisi masih sibuk dengan perbantahannya. Yang muda-muda apalagi, mereka asyik dengan dunia kebut-kebutannya.

Padahal bagi umat Islam salat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan. Bagi yang tidak melakukannya akan mendapat dosa. Sebab salat lima waktu itu hukumnya fardhu 'ain (diwajibkan atas setiap muslim laki-laki dan perempuan yang dewasa).

Salat berasal dari bahasa Arab yang berarti doa dan doa adalah permohonan.

"Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka." (QS At-Taubah (9): 103).

Sedangkan menurut istilah syara', salat adalah ibadah yang dikerjakan umat Islam dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syarat dan rukunnya.

Ini adalah pendapat ulama fiqh, di antaranya Imam Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasqy as-Syafii dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitabnya Perukunan Besar. (Islam Digest, Edisi Ahad, 15 Agustus 2010).

Tiang Penyangga

Salat itu adalah tiang agama yang utama dibandingkan tiang agama lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Agama dibangun atas lima tiang penyangga. Yang pertama syahadat, dua salat, tiga puasa, empat zakat dan lima adalah naik haji ke Mekkah al-Mukarromah bagi orang yang mampu." (HR Bukhari dan Muslim dari Umar Ibnul Khatthab ra).

Di akherat nanti, seperti sabda Nabi Muhammad SAW, akan dipertanyakan terlebih dulu kepada manusia di Padang Mahsyar nanti tentang salat. Bila salatnya baik maka akan baik pula semua amal perbuatan di dunia, apa pun bentuknya. Demikian pula bila amal ibadah salat kita ternyata tidak baik, angka merah, apalagi sampai tidak dikerjakan sama sekali selama hidup, maka seluruh amal yang diperbuat di dunia ini akan ditolak, termasuk amal ibadah haji sekalipun.

Makna esensi hadist ini adalah semua amal ibadah, diterima atau ditolak. tergantung bagaimana salatnya, dikerjakan atau tidak sama sekali. Sedangkan tegak berdirinya agama juga terletak pada salat. Kalau tidak dikerjakan akan runtuhlah agamanya. Maknanya, barangsiapa tidak melaksanakan berarti otomatis agamanya runtuh.

Rasulullah SAW juga menekankan, seperti sabda beliau berikut ini: "Barangsiapa meninggalkan salat dengan sengaja, tidak disebabkan uzur syar'i, maka kafir dengan nyata." (HR Bukhari dan Muslim).

Mengapa Rasulullah SAW sangat menekankan ibadah salat? Karena ada dua manfaat yang bisa dipetik dari ibadah salat. Pertama, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, membimbing umat agar selalu dalam kedamaian.


Beruntung

Menurut Prof Dr Mahmud Syaltut, dengan salat lima waktu seorang muslim mengingat Tuhannya dalam masa yang berurutan pada siang dan malam hari. Dengan salat ini pula ia mengulangi kehadirannya di hadapan Tuhan.

Alquranulkarim telah menampilkan salat dari beberapa segi, di antaranya sifat orang-orang yang bertakwa dan bisa mengambil manfaat dari kitabullah. Mereka yang bersifat dengan sifat-sifat seperti itu termasuk orang-orang yang memperoleh petunjuk dari Tuhan dan mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS Al- Baqarah (2): 1-5).

Salat juga merupakan salah satu unsur dari unsur-unsur kebaikan dan kebenaran yang telah ditetapkan Allah SWT bagi hamba-Nya, diseru-Nya mereka untuk menunaikannya dan dijadikan-Nya unsur tersebut sebagai kebenaran keimanan mereka dan bahwa mereka adalah orang-orang yang bertakwa. (QS 2: 177).

Alquranulkarim juga menampilkan salat dan menetapkannya sebagai amalan pertama sesudah keimanan, yang dalam hal ini menunjukkan kebenaran keimanan tersebut dan memberikan hak kepada pemiliknya untuk dikelompokkan ke dalam lingkungan persaudaraan kaum mukminin. (QS 9:11).

Sebaliknya Alquran juga menegaskan bahwa meninggalkan salat pertanda tenggelamnya seorang manusia ke dalam hawa nafsu dan jalan kejatuhan ke dalam jurang kecelakaan dan kesesatan. Juga merupakan salah satu sebab di antara sebab-sebab keabadian di dalam neraka. (QS Maryam (19): 59 dan QS Al-Muddatstsir (74): 38-47).

Demikian pula Alquran telah menjadikan lalai terhadap salat dan tidak memperhatikan makna dan ruhnya sebagai tanda mendustakan hari pembalasan. (QS Al-Ma'un (107): 1-7).

Luqman sendiri mewasiatkan kepada anaknya agar mendirikan salat. "Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh) Allah." (QS Luqman 17).


Ampunan

Akhirnya, kita banyak berharap agar orang yang terkena penyakit kurap terhadap berbagai masalah atau kejadian yang menimpa negeri tercinta ini seperti gempa, tsunami, gunung meletus, lumpur lapindo, banjir, kebakaran, dan huru-hara ini bisa segera bangkit dan mengharapkan ampunan Allah SWT.

Semoga keselamatan tetap dinikmati dan sangat didambakan. Kepada umat Islam yang masih tetap istiqomah tetaplah mematuhi Undang-undang Allah, rasul dan ulil amri, melaksanakan ajaran Islam dalam setiap rona kehidupan karena Islam itu bukan hanya pengakuan namun harus disertai perbuatan.

Sumber: tribunnews

2 comments:

Fajar said...

betul sekali gan, kadang saya sendiri tidak sadar dengan apa yang telah saya lakukan, rupanya denga shalat semua terjawab sudah, kadang manusia menjalankan shalat hanya sekedar bersifat Shalat yang Rutinitas bukan shalat yang berkualitas.. Thanks gan atas sharenya lam kenal. God Bless U

Alfa@Balikpapan said...

alhamdulillah, semoga artikel ini bisa terus mengingatkan kita mas.
Salam kenal juga..